Jumat, 21 Oktober 2011

EVERCOLOUR: Dinamika Warna Daun Tanaman dan Penggunaannya dalam Lanskap

PENDAHULUAN


     Berdasarkan aspek fisik dan visual, tanaman dapat digolongkan menjadi tanaman yang dominan unsur garis, unsur bentuk, unsur tekstur, unsur stuktur, unsur massa, unsur karakter, dan unsur warna. Salah satu unsur yang menarik untuk dipelajari adalah tanaman dengan dominasi unsur warna. Kajian mengenai warna daun menjadi penting karena membantu dalam perencanaan maupun desain lanskap dengan nilai kekhasan yang diperlihatkan melalui warna, sehingga lanskap menjadi dinamis dan tidak monoton.
Beberapa jenis tanaman memiliki warna daun yang khas, terkait dengan perubahan warnanya dari waktu ke waktu. Misalnya terdapat jenis tanaman yang daunnya berwarna cerah ketika masih berupa daun muda dan berubah semakin gelap ketika sudah tua kondisi daunnya, beberapa jenis lainnya mengalami perubahan warna pada saat menggugurkan daunnya. Perubahan warna daun tersebut terkait dengan faktor fisik lingkungan maupun faktor dari dalam sistem tanaman itu sendiri. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji hal-hal berikut:
1.      Warna daun, meliputi mekanisme perubahan warna daun, warna-warna daun yang muncul terkait waktu
2.      Faktor yang mempengaruhi perubahan warna pada daun
3.      Tanaman yang memiliki kedinamisan warna daun dan penggunaannya pada lanskap.



 METODE

          Makalah  ini merupakan laporan dari kunjungan pada 3 lokasi praktikum yaitu Kebun Raya Bogor, Kawasan Wisata Ilmiah dan Balitro Cimanggu, serta Kebun Raya Bogor. Dominasi jenis tanaman yang ditampilkan pada makalah merupakan tanaman yang berada pada lokasi diatas. Hasil makalah merupakan hasil pengamatan langsung di 3 lokasi tapak dan beberapa data yang mendukung dari studi pustaka. Pembahasan dibatasi pada kajian dinamika warna daun berdasarkan perbedaan umur dan  dinamika warna daun beberapa tanaman yang menggugurkan daun pada musim kemarau. Makalah dideskripsikan melalui data tabular, bagan, dan dokumentasi jenis tanaman dengan dinamika warna daun pada lampiran. Pembahasan dalam makalah ini berisi beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan warna daun, seperti tampak pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka makalah berkaitan dengan warna daun pada tanaman.


PEMBAHASAN

Perubahan Warna pada Daun
Pada umumnya warna daun dipengaruhi oleh zat hijau daun (klorofil) yang menyebabkan warna daun menjadi hijau. Sebagian besar klorofil terdapat di daun, namun pada bagian-bagian tanaman lain seperti akar, batang, buah, biji, dan bunga juga terdapat klorofil dengan jumlah terbatas. Distribusi klorofil pada daun berbeda-beda. Klorofil di pangkal daun akan berbeda dengan klorofil di bagian ujung, tengah, dan tepi daun. Perbedaan jumlah klorofil ini akan menunjukkan perbedaan warna daun. Semakin hijau warna daun maka semakin tinggi kandungan klorofilnya.
Terdapat 3 komponen yang memberikan penampilan pada warna daun. Komponen tersebut adalah klorofil yang menghasilkan warna hijau untuk proses fotosintesis, karotenoid (karoten dan atau xanthofil) yang memberi warna oranye atau kuning, tannin yang memberikan warna kuning keemasan, dan anthocyanin yang memberi warna merah atau ungu. Klorofil dan karotenoid berada di dalam daun selama musim panas dengan jumlah yang lebih banyak dan menutupi warna karotenoid, sehingga sebagian besar daun berwarna hijau. Anthocyanin diproduksi sebagai hasil dari glukosa yang terjebak dalam daun ketika pembuluh darah daun tersebut tertutup. Gula ini kemudian akan pecah karena terkena cahaya matahari dan menghasilkan pigmen berwarna merah dan ungu.
Pada kondisi eksisting tidak semua daun tanaman selalu berwarna hijau, daun dapat berwarna kuning, merah, bahkan cenderung biru. Hal tersebut disebabkan  adanya zat terlarut yang dapat menghasilkan warna tertentu. Beberapa diantaranya adalah Anthocyanin dan Anthoxanthin. Anthocyanin berada di sitoplasma dan menimbulkan warna merah muda, merah tua, dan biru. Warna ini akan berubah mengikuti derajat keasaman (pH) lingkungan. Semakin asam (pH rendah) lingkungan akan muncul warna merah, sebaliknya semakin basa (pH tinggi) akan muncul warna biru pada daun. Anthoxantin juga berada di sitoplasma tetapi warna yang dihasilkan adalah kuning muda hingga kuning tua. Kondisi dimana kedua zat ini bercampur di sitoplasma dan menghasilkan warna yang tidak sesuai dapat disebut ko-pigmentasi.
  
Mekanisme Perubahan Warna Daun Berdasarkan Umur Daun
Proses fotosintesis dipengaruhi oleh umur daun dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap perubahan warna daun, karena pada fotosintesis terdapat pigmen yang berhubungan dengan warna daun (Susanto, 2008). Tanaman senantiasa tumbuh dan pucuk-pucuk daun akan muncul di ujung cabang. Tanaman muda pada dasarnya memerlukan intensitas cahaya yang relatif rendah, sehingga aktifitas fotosintesisnya tidak maksimum yang menyebabkan warna daun berusia muda biasanya berwarna lebih pucat dibandingkan daun yang berusia tua (Gambar 1).



 Gambar 1 Bagan hubungan nutrisi, jumlah klorofil, dan umur daun terhadap
                               perubahan warna daun.


Daun dengan umur muda akan berubah warna menjadi daun yang lebih hijau. Hal ini terkait dengan jumlah nutrisi yang didistribusikan ke daun. Daun yang mengalami penuaan cenderung menerima nutrisi yang lebih banyak, sehingga daun tua mendapat lebih banyak klorofil. Oleh sebab itu warna daun yang berumur tua lebih hijau.
Pertambahan umur tanaman akan mengarah pada penurunan kondisi bahkan kematian pada organ atau organisme. Bagian akhir dari perkembangan sampai hilangnya fungsi dan pengorganisasian disebut penuaan. Penuaan akan dialami semua sel di waktu yang berbeda-beda. Salah satu bagian tanaman yang mengalami penuaan adalah daun. Bagian daun memiliki umur terbatas, daun yang tua akan berubah warna lagi menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya merah kecoklatan, lalu daun akan gugur. Proses menggugurkan daun akan diikuti oleh perubahan warna daun. Warna daun yang gugur akan berbeda dengan daun yang masih segar (kondisi optimal). Kondisi yang terjadi pada saat penguguran daun adalah ketersediaan air tanah yang berada pada level rendah (Anonim b, 2011). Penguapan air yang terjadi tidak seimbang dengan kemampuan penyerapan air oleh akar. Pengguguran daun dilakukan tanaman sebagai adaptasi untuk mencegah kehilangan air yang berlebih dan membantu daur ulang zat-zat makanan.
Kondisi tersebut dapat diamati pada musim kemarau pada jenis tanaman tertentu. Ketersediaan air penting dalam proses fotosintesis, dengan berkurangnya air maka fotosintesis akan terhambat, sehingga yang terjadi adalah air terus menguap dan klorofil berkurang. Akibatnya warna daun berubah menjadi kuning, kecoklatan dan akhirnya gugur.
Selama musim kemarau, tanaman memproduksi klorofil terus untuk membantu meningkatkan produksi glukosa, yang digunakan pohon sebagai makanan mereka. Sampai suatau saat ketika durasi panjang suatau hari menurun, dan menyebabkan matahari bersinar lebih singkat, pohon tersebut secara bertahap akan mulai menurunkan produksi klorofil dan pembuluh darah yang menuju ke daun lambat laun akan menutup. Ketika hal ini terjadi, maka yang tersisa pada daun hanyalah karotenoid dan antosianin, sehingga daun pun akan tampak berubah warna menjadi oranye, kuning merah, atau ungu.
Zat kimia dalam daun, aksin juga mengatur sel-sel pada batang daun. Auksin mencegah lapisan absisi terbentuk sempurna. Pada musim gugur akan memicu terhambatnya produksi auksin sehingga lapisan absisi terbentuk menghalangi sirkulasi air, nutrien, dan gula ke daun. Klorofil mengalami disintergrasi dan memicu pigmen lain seperti karoten ataupun anthocyanin menampakkan warnanya.
Hal utama yang memicu perubahan warna pada daun adalah berapa lama matahari menyinari daun tersebut dan panjang pendeknya hari. Beberapa pohon tergantung dari species pohon tersebut memiliki mekanisme yang akan memicu proses penutupan pembuluh darah pohon yang menuju ke daun dan akhirnya menggugurkan daun tersebut, mencegah agar pohon itu tidak membeku karena vena masih terbuka, yang berpotensi dapat membahayakan pohon. Selain hal tadi, kelembaban dan suhu juga berperan penting dalam proses ini.
Suhu juga berperan dalam perubahan warna daun. Namun, suhu hanya berperan kecil mengingat bahwa pohon yang berasal dari spesies yang sama pada ketinggian yang sangat tinggi, di mana suhu lebih dingin, akan memiliki perubahan warna daun pada waktu yang hampir sama persis dengan pohon yang berada di ketinggian yang lebih rendah. Proses penuaan daun dimulai pada tanaman umur 44 hari yang ditandai dengan menurunnya kandungan klorofil. Pada umur ini diduga terjadi perubahan warna daun dari umur daun muda dengan warna lebih terang ke warna daun yang lebih tua (lebih hijau).
Jenis-jenis tumbuhan yang mempunyai sifat menggugurkan daun disebut tumbuhan meranggas (tropophyta) yang banyak ditemukan di Indonesia, seperti, Pohon Jati (Tectona grandis L ), Kedondong (Spondias dulcis Forst.), Kapok Randu (Ceiba pentandra Gaertn.), Pohon Karet (Hevea brasiliensis Muell.), dan lain-lain.


Faktor Pengaruh Perubahan Warna Daun
Perubahan warna daun yang sering terjadi ketika daun masih muda dan daun tua adalah dari warna cerah seperti; putih, merah muda, merah tua, dan kuning pucat ke warna gelap seperti hijau dan hijau tua. Pada saat kondisi optimal, seperti saat gugur daun, beberapa jenis tanaman akan berubah warna lagi menjadi warna hangat/ panas seperti kuning, merah, sampai ke coklat. 
Perubahan warna tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor ultimate dan faktor proximate. Faktor lingkungan merupakan faktor luar yang mempengaruhi faktor internal tanaman misalnya unsur iklim (suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan), topografi, tanah, nutrisi, dan lain-lain. Faktor ultimate merupakan faktor yang tidak dapat diamati secara langsung dari fisik tanaman. Faktor tersebut berasal dari dalam faktor tanaman, biasanya terkait dengan genetis tanaman. Sementara faktor proximate merupakan faktor fisik dari tanaman yang dapat diamati secara langsung. Ketiga faktor ini akan saling berkaitan, terutama faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap faktor ultimate tanaman.

Faktor Lingkungan
 Lama panjang penyinaran
Tanaman menggunakan klorofil dalam proses fotosintesis dengan memanfaatkan energi matahari. Klorofil ini diproduksi dan diuraikan secara terus menerus dalam proses teresebut. Penurunan panjang hari penyinaran menyebabkan malam hari bertambah panjang, sehingga produksi klorofil melambat sebagai konsekuensi dari menyusutnya reaksi terang dalam proses fotosintesis tersebut. Penurunan produksi klorofil ini mendorong pigmen daun lainnya seperti xanthofil, karoten, dan anthocyanin terbentuk, sehingga merubah warna daun yang sebelumnya berwarna hijau menjadi berwarna-warni.

Intensitas Cahaya
       Intensitas cahaya yang jatuh ke permukaan daun berbeda-beda. Daun berumur muda terletak pada pucuk. Intensitas cahaya yang banyak serta jumlah klorofil yang banyak pada pucuk akan digunakan untuk proses fotosintesis. Akibatnya kadar klorofil akan menjadi rendah (Gambar2).

Gambar 2 Hubungan Intensitas Cahaya dengan Perubahan Warna Daun.
       IC terlalu rendah aktifitas fotosintesis menurun, suplai KH dan auxin untuk pertumbuhan akar menurun, bibit yang kekurangan IC memiliki perakaran yang tidak berkembang
       IC terlalu tinggi : fotooksidasi meningkat, suhu tinggi, kelembaban rendah, kematian daun (daun terbakar)
 
Suhu
Suhu udara berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Setelah mengetahui kondisi suhu udara maka akan dapat ditentukan tempat dan waktu penanaman yang tepat. Pada siang hari di musim kemarau, tanaman akan melakukan aktifitas fotosintesis secara optimal. Glukosa yang dihasilkan selain di transportasikan ke jaringan lain juga ditimbun. Penimbunan ini karena jaringan floem menutup akibat suhu pada malam hari yang kontras dengan suhu siang hari. Penimbunan gula ini menjadi pemicu pembentukan anthocyanin.

Persediaan Air
Persediaan air yang kurang, berdampak pada pengurangan kecepatan fotosintesis. Menurut Griffiths (1976) dalam Susanto (2008), Fotosintesis akan menurun jika 30% kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan berhenti jika kehilangan air mencapai 60%. Akibat kekurangan air juga menyebabkan penutupan stomata daun. Pada musim kering, transpirasi yang terjadi akan menyebabkan air menguap dengan intensitas tinggi yang berakibat daun mengalami kekeringan dan terjadi perubahan warna pada daun menjadi kuning atau kecoklatan.

Naungan Vs. Terbuka
Pada kondisi naungan jumlah klorofil pada tanaman akan lebih banyak daripada jumlah klorofil pada tanaman yang non-naungan. Tempat ternanung memiliki jumlah intensitas cahayanya tidak sebanyak pada tempat yang terbuka. Fotooksidasi pada daun usia tua lebih sedikit daripada daun yang lebih muda. Daun akan beradaptasi untuk membentuk klorofil sebagai akibatnya glukosa sebagai pembentuknya lebih banyak untuk daun yang sudah tua. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan warna pucuk dan warna daun tua.

Faktor Ultimate
Kadar Klorofil
Pada umur daun yang berbeda, kadar klorofil akan berbeda. Hal tersebut terjadi karena peran klorofil sebagai pigmen penerima cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Kandungan klorofil akan menentukan kecepatan fotosintesis. Semakin besar kadar klorofil maka laju fotosintesis berlangsung dengan cepat. Pada daun yang usianya tua memiliki kadar klorofil paling banyak dibandingkan daun berumur muda. Hal tersebut disebabkan oleh:
1.      Pada daun berumur tua sudah memiliki jaringan yang kompleks yang berdampak pada fotosintesis yang terjadi maksimal.
2.      Selain memiliki klorofil, daun pada usia tua memiliki karotenoid yang digunakan sebagai perlindungan, sehingga klorofil tidak mengalami fotosintesis berlebih.
3.      Karbohidrat yang ada pada daun berumur tua dihasilkan dalam jumlah banyak. Hal ini berdampak pada meningkatnya produksi klorofil, karena klorofil terbentuk dari karbohidrat.
Berdasarkan kandungan klorofil pada daun umur tua yang lebih banyak maka warna daun pada umur tua cenderung lebih berwarna hijau tua dibandingkan warna daun pada umur muda.

Faktor Proximate
Morfologi dan Anatomi Daun
Perbedaan warna daun yang berdasar pada perbedaan kandungan klorofil juga dipengaruhi perbedaan massa jenis tanaman, varietas, status nutrisi, musim, stress/cekaman, tipe tanaman, jenis tanah, dan iklim setempat. Tanaman yang tumbuh di tempat ternaung umumnya memiliki kandungan klorofil lebih besar dan luas daun lebih lebar, sedangkan tanaman di tempat terbuka kandungan klorofilnya lebih kecil dan luas daunnya lebih sempit. Tanaman yang tumbuh di daerah ternaung, kandungan klorofilnya lebih besar, daunnya lebih tipis, proteinnya lebih rendah dan luas permukaan daunnya lebih lebar dibandingkan tanaman yang tumbuh di tempat terbuka/tak ternaung.

Contoh dan Deskripsi Tanaman yang Memiliki Dinamika Warna Daun
Berikut merupakan daftar tanaman yang memiliki kedinamisan warna daun ketika masih muda (pucuk) dan perubahan warnanya menuju daun yang tua (Tabel 1). Tanaman di bawah dikelompokkan berdasarkan strata tanaman dengan disertakan data famili dan perubahan warna yang terjadi mulai dari daun yang usia muda ke tua.
Tabel 1 Perubahan warna daun muda ke daun tua pada beberapa tanaman

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Warna ke-4
Semak
Euphorbia pulcherrima (Kastuba)
Euphorbiaceae
Merah muda/ Putih
Merah
Hijau
-
Ardisia crenata

Myrsinaceae




Perdu Tinggi
Mussaenda sp. (Nusa Indah)
Rubiaceae
Putih/ Merah
Hijau muda
-
-
Calliandra sp.
(Kaliandra)
Fabaceae




Pohon Pendek
Saraca thaipingensis (Pohon saraka)
Fabaceae
Merah kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
-
Cynometra cauliflora (Nam-Nam)
Fabaceae
Merah
Kuning kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
Pohon Sedang
Brownea grandiceps (Bunga lampion)
Caesalpiniaceae
Merah muda kecoklatan
Hijau
-
-
Maniltoa grandiflora (pohon saputangan)
Fabaceae
Hijau muda
Kuning kemerahan
Hijau
Hijau tua
Pisonia grandis ‘Alba
(Kol banda)
Nyctaginaceae
Kuning muda
Hijau-kuning
Hijau muda
Hijau tua
Syzygium oleana
(Pucuk Merah)
Myrtaceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
-


Lanjutan Tabel 1 Perubahan warna daun muda ke daun tua pada beberapa tanaman
Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Warna ke-4
Pohon Tinggi
Cinnamomum burmanii (Pohon Kayu manis)
Lauraceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Pometia pinnata
(Pohon Matoa)
Sapindaceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
Kuning
Ficus benjamina L. (Pohon beringin)
Moraceae
Merah muda/ Kecoklatan
Hijau tua
-
-
Ficus elastica
(Beringin karet)
Moraceae
Merah
Hijau tua
-
-
Dialium modestum (Dialium)
Caesalpiniaceae
Merah
Kuning kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
Cryptocarya perrea
Lauraceae

Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Persea americana (Pohon Alpukat)
Lauraceae
Merah kecoklatan
Merah kehijauan
Hijau tua
-
Tanaman Menempel (Efifit)
Ficus repens
(dolar-dolaran)
Moraceae
Hijau muda
Hijau tua
-
-
Tanaman Groundcover
Blechnum gibbum
(Blechnum)
Blechnaceae

Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Sumber: Pengamatan Lapang serta Lestari dan Kencana (2008).

Berikut ditampilkan daftar tanaman tropis yang memngalami perubahan warna daun ketika gugur daun. Pada umumnya merupakan kelompok strata pohon. Data yang ditampilkan berupa nama famili dan perubahan warna yang terjadi. Warna ke-1 menunjukkan warna optimal sebelum mengalami gugur daun.
Tabel 2 Perubahan warna daun pada beberapa tanaman tropis yang menggugurkan
 daun

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna Ketika Gugur Daun
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Terminalia cattapa (Pohon Ketapang)
Combretaceae
Hijau
Kuning
Jingga kemerahan
Delonix regia (Pohon Flamboyan)
Caesalpiniaceae
Hijau tua
Kuning
Kuning kecoklatan
Pometia pinnata
(Pohon Matoa)
Sapindaceae
Hijau tua
Kuning
-
Lanjutan Tabel 2 Perubahan warna daun pada beberapa tanaman tropis yang menggugurkan Daun

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna Ketika Gugur Daun
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Hevea braziliensis
(Pohon Karet)
Euphorbiaceae
Hijau tua
Kuning kecoklatan
-
Ceiba pentandra (Pohon Kapuk)
Moraceae
Hijau
Coklat
-
Persea americana (Pohon Alpukat)
Lauraceae
Hijau tua
Kuning
Kuning kecoklatan

Sumber: Pengamatan Lapang serta Lestari dan Kencana (2008).


Fungsi dan Rekomendasi Penggunaan Tanaman Dinamika Warna Daun pada Desain Lanskap

Penggunaan tanaman yang memiliki dinamika warna daun akan memberikan kesan visual yang berbeda, karena pengguna tapak dapat menikmati sesuatu yang dinamis (tidak monoton). Kombinasi elemen warna, tekstur penting ditampilkan agar desain selaras dan bukan hanya kumpulan tanaman. Warna pada tanaman yang dihadirkan akan memberi suasana tertentu seperti tujuan desainer, misalnya penggunaan tanaman dengan dinamika daun warna kuning-hijau akan memberi suasana ceria dan segar, penggunaan dinamika warna daun merah-merah muda-hijau akan membentuk suasana ruang yang hangat.
Aplikasi penggunaan tanaman dinamika warna daun dapat dimulai dengan penentuan dan peletakan tanaman utama (Anonim a, 2011). Tanaman utama dapat berupa tanaman yang memiliki dinamika daun ataupun tidak. Apabila tanaman utama tidak memiliki dinamika warna daun, maka tanaman disekitarnya didesain menggunakan tanaman dengan dinamika warna daun, hal ini berlaku sebaliknya. Hal tersebut berfungsi untuk memperkuat sifat tanaman utama (sebagai focal point). Contohnya adalah kombinasi tanaman Cupressus cashmeriana (sebagai focal point) dengan tanaman Pisonia grandis (Kolbanda) sebagai tanaman penunjang.
Komposisi peletakan tanaman sebagai focal point dapat disesuaikan dengan arah pandang. Apabila focal point ingin dilihat dari seluruh arah maka tanaman utama diletakan di pusat, tetapi apabila ingin dilihat dari satu sisi maka dapat diletakkan di depan atau di belakang tanaman penunjang. Penggunaan tanaman dinamika warna daun juga dapat disesuaikan dengan teksturnya. Seperti kombinasi Cupressus cashmeriana dengan tanaman Kolbanda, yang memiliki tekstur berbeda akan memberi kontras yang baik. Dari segi pemilihan warna perlu diperhatikan untuk menggunakan warna-warna yang serasi. Tanaman dengan dinamika warna daun biasanya sudah memiliki banyak warna dalam satu tanaman, sehingga perlu diatur jumlah jenis tanaman yang akan digunakan agar tetap tercipta satu kesatuan (unity). Kesatuan dan keseimbangan dapat menghasilkan keserasian, tetapi dapat juga mengahasilkan hal yang monoton sehingga diperlukan aksen. Aksen ini dapat dibentuk dari adanya kontras dalam segi warna, bentuk, tekstur, ketinggian dan sebagainya.
Pembentukan aksen dapat dilakukan dengan menambahkan tanaman yang daunnya berwarna menarik seperti hanjuang merah ataupun jenis lain diantara tanaman utama dan penunjang. Sebagai penutup batang tanaman tersebut dapat diletakkan groundcover seperti Spathyphillum atau jenis paku-pakuan. Jenis yang dapat digunakan dalam satu area sebaiknya tidak terlalu banyak, sekitar 3 jenis untuk maksimalnya. Hal ini agar secara visual perhatian pengguna tidak terlalu terpecah dengan banyaknya jenis tanaman yang dinamis warna daunnya. Beberapa ketentuan dalam penyusunan komposisi tanaman secara umum:
1.      The law of simplicity: tidak menggunakan banyak jenis tanaman
2.      The law of dominance: Satu jenis tanaman mendominasi kelompok, jenis lainnya sebagai penunjang
3.      The law of harmony: Pemilihan jenis yang serasi dilihat dari warna, tekstur, sifat pertumbuhan
4.      The law of ecology: Jenis tanaman terpilih tidak boleh saling bertentangan dalam kebutuhan akan hidup
5.      The law of adaptation: Jenis tanaman terpilih harus sesuai dengan keadaan tempatnya.


PENUTUP

Kesimpulan

Perubahan warna yang terjadi dari daun usia muda ke tua adalah dimulai dari warna cerah seperti, merah, merah muda, hijau kekuningan lalu berubah ke warna gelap hijau, hijau tua, kuning, merah kecoklatan, lalu gugur. Hal ini terkait dengan jumlah nutrisi yang didistribusikan ke daun. Daun yang mengalami penuaan cenderung menerima nutrisi yang lebih banyak, sehingga daun tua mendapat lebih banyak klorofil. Oleh sebab itu warna daun yang berumur tua lebih hijau. Proses menggugurkan daun akan diikuti oleh perubahan warna daun. Ketersediaan air penting dalam proses fotosintesis, dengan berkurangnya air maka fotosintesis akan terhambat, sehingga yang terjadi adalah air terus menguap dan klorofil berkurang. Akibatnya warna daun berubah menjadi kuning, kecoklatan dan akhirnya gugur. 
Faktor yang mempengaruhi perubahan warna daun pada usia muda dan tua adalah faktor lingkungan (lama panjang penyinaran, intensitas cahaya, suhu, persediaan air, kondisi naungan/tidak), faktor ultimate meliputi kadar klorofil, dan faktor proximate meliputi morfologi dan anatomi daun. Berdasarkan hasil pengamatan di lapang, tanaman dengan dinamika warna daun dijumpai dominan pada famili Caesalpiniaceae, Lauraceae, Moraceae, dan Fabaceae. Penggunaan tanaman dengan dinamika warna daun dapat memberi kesan dinamis dan hidup pada lanskap, membentuk suasana tertentu yang tidak monoton, membentuk focal point, dan unity. Hal yang perlu diperhatikan dalam komposisi adalah menata sebagai focal point, jenis dan jumlah tanaman, kombinasi warna-tekstur-bentuk, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.

Saran
Diperlukan kajian lebih dalam mengenai waktu yang diperlukan pada tiap-tiap perubahan warna daun, karena pada makalah ini hanya dapat diketahui bahwa waktu yang diperlukan daun muda berkembang menjadi daun tua selama 44 hari, namun untuk perubahan waktu dari satu warna ke warna lainnya belum diketahui secara detil.




DAFTAR PUSTAKA


Anonim a. 2011. Tata Hijau-Pdf. http://google.com. Hlm 81-88. [28 September 2011).

Anonim b. 2011. Penuaan dan Pengguguran pada Tumbuhan. www.google.com. [29 September 2011].


Lestari G dan IP Kencana. 2008. Galeri Tanaman Hias Lanskap. Jakarta: Penebar Swadaya.

Susanto A. 2008. Kadar Klorofil Pada Berbagai Tanaman yang Berbeda Umur. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

1 komentar :

  1. Makasih ya atas informasi yang diberikan sangat bermanfaat gan...
    Salam kenal gan dari membuat Manisan kolang kaling

    BalasHapus

Jumat, 21 Oktober 2011

EVERCOLOUR: Dinamika Warna Daun Tanaman dan Penggunaannya dalam Lanskap

PENDAHULUAN


     Berdasarkan aspek fisik dan visual, tanaman dapat digolongkan menjadi tanaman yang dominan unsur garis, unsur bentuk, unsur tekstur, unsur stuktur, unsur massa, unsur karakter, dan unsur warna. Salah satu unsur yang menarik untuk dipelajari adalah tanaman dengan dominasi unsur warna. Kajian mengenai warna daun menjadi penting karena membantu dalam perencanaan maupun desain lanskap dengan nilai kekhasan yang diperlihatkan melalui warna, sehingga lanskap menjadi dinamis dan tidak monoton.
Beberapa jenis tanaman memiliki warna daun yang khas, terkait dengan perubahan warnanya dari waktu ke waktu. Misalnya terdapat jenis tanaman yang daunnya berwarna cerah ketika masih berupa daun muda dan berubah semakin gelap ketika sudah tua kondisi daunnya, beberapa jenis lainnya mengalami perubahan warna pada saat menggugurkan daunnya. Perubahan warna daun tersebut terkait dengan faktor fisik lingkungan maupun faktor dari dalam sistem tanaman itu sendiri. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji hal-hal berikut:
1.      Warna daun, meliputi mekanisme perubahan warna daun, warna-warna daun yang muncul terkait waktu
2.      Faktor yang mempengaruhi perubahan warna pada daun
3.      Tanaman yang memiliki kedinamisan warna daun dan penggunaannya pada lanskap.



 METODE

          Makalah  ini merupakan laporan dari kunjungan pada 3 lokasi praktikum yaitu Kebun Raya Bogor, Kawasan Wisata Ilmiah dan Balitro Cimanggu, serta Kebun Raya Bogor. Dominasi jenis tanaman yang ditampilkan pada makalah merupakan tanaman yang berada pada lokasi diatas. Hasil makalah merupakan hasil pengamatan langsung di 3 lokasi tapak dan beberapa data yang mendukung dari studi pustaka. Pembahasan dibatasi pada kajian dinamika warna daun berdasarkan perbedaan umur dan  dinamika warna daun beberapa tanaman yang menggugurkan daun pada musim kemarau. Makalah dideskripsikan melalui data tabular, bagan, dan dokumentasi jenis tanaman dengan dinamika warna daun pada lampiran. Pembahasan dalam makalah ini berisi beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan warna daun, seperti tampak pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka makalah berkaitan dengan warna daun pada tanaman.


PEMBAHASAN

Perubahan Warna pada Daun
Pada umumnya warna daun dipengaruhi oleh zat hijau daun (klorofil) yang menyebabkan warna daun menjadi hijau. Sebagian besar klorofil terdapat di daun, namun pada bagian-bagian tanaman lain seperti akar, batang, buah, biji, dan bunga juga terdapat klorofil dengan jumlah terbatas. Distribusi klorofil pada daun berbeda-beda. Klorofil di pangkal daun akan berbeda dengan klorofil di bagian ujung, tengah, dan tepi daun. Perbedaan jumlah klorofil ini akan menunjukkan perbedaan warna daun. Semakin hijau warna daun maka semakin tinggi kandungan klorofilnya.
Terdapat 3 komponen yang memberikan penampilan pada warna daun. Komponen tersebut adalah klorofil yang menghasilkan warna hijau untuk proses fotosintesis, karotenoid (karoten dan atau xanthofil) yang memberi warna oranye atau kuning, tannin yang memberikan warna kuning keemasan, dan anthocyanin yang memberi warna merah atau ungu. Klorofil dan karotenoid berada di dalam daun selama musim panas dengan jumlah yang lebih banyak dan menutupi warna karotenoid, sehingga sebagian besar daun berwarna hijau. Anthocyanin diproduksi sebagai hasil dari glukosa yang terjebak dalam daun ketika pembuluh darah daun tersebut tertutup. Gula ini kemudian akan pecah karena terkena cahaya matahari dan menghasilkan pigmen berwarna merah dan ungu.
Pada kondisi eksisting tidak semua daun tanaman selalu berwarna hijau, daun dapat berwarna kuning, merah, bahkan cenderung biru. Hal tersebut disebabkan  adanya zat terlarut yang dapat menghasilkan warna tertentu. Beberapa diantaranya adalah Anthocyanin dan Anthoxanthin. Anthocyanin berada di sitoplasma dan menimbulkan warna merah muda, merah tua, dan biru. Warna ini akan berubah mengikuti derajat keasaman (pH) lingkungan. Semakin asam (pH rendah) lingkungan akan muncul warna merah, sebaliknya semakin basa (pH tinggi) akan muncul warna biru pada daun. Anthoxantin juga berada di sitoplasma tetapi warna yang dihasilkan adalah kuning muda hingga kuning tua. Kondisi dimana kedua zat ini bercampur di sitoplasma dan menghasilkan warna yang tidak sesuai dapat disebut ko-pigmentasi.
  
Mekanisme Perubahan Warna Daun Berdasarkan Umur Daun
Proses fotosintesis dipengaruhi oleh umur daun dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap perubahan warna daun, karena pada fotosintesis terdapat pigmen yang berhubungan dengan warna daun (Susanto, 2008). Tanaman senantiasa tumbuh dan pucuk-pucuk daun akan muncul di ujung cabang. Tanaman muda pada dasarnya memerlukan intensitas cahaya yang relatif rendah, sehingga aktifitas fotosintesisnya tidak maksimum yang menyebabkan warna daun berusia muda biasanya berwarna lebih pucat dibandingkan daun yang berusia tua (Gambar 1).



 Gambar 1 Bagan hubungan nutrisi, jumlah klorofil, dan umur daun terhadap
                               perubahan warna daun.


Daun dengan umur muda akan berubah warna menjadi daun yang lebih hijau. Hal ini terkait dengan jumlah nutrisi yang didistribusikan ke daun. Daun yang mengalami penuaan cenderung menerima nutrisi yang lebih banyak, sehingga daun tua mendapat lebih banyak klorofil. Oleh sebab itu warna daun yang berumur tua lebih hijau.
Pertambahan umur tanaman akan mengarah pada penurunan kondisi bahkan kematian pada organ atau organisme. Bagian akhir dari perkembangan sampai hilangnya fungsi dan pengorganisasian disebut penuaan. Penuaan akan dialami semua sel di waktu yang berbeda-beda. Salah satu bagian tanaman yang mengalami penuaan adalah daun. Bagian daun memiliki umur terbatas, daun yang tua akan berubah warna lagi menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya merah kecoklatan, lalu daun akan gugur. Proses menggugurkan daun akan diikuti oleh perubahan warna daun. Warna daun yang gugur akan berbeda dengan daun yang masih segar (kondisi optimal). Kondisi yang terjadi pada saat penguguran daun adalah ketersediaan air tanah yang berada pada level rendah (Anonim b, 2011). Penguapan air yang terjadi tidak seimbang dengan kemampuan penyerapan air oleh akar. Pengguguran daun dilakukan tanaman sebagai adaptasi untuk mencegah kehilangan air yang berlebih dan membantu daur ulang zat-zat makanan.
Kondisi tersebut dapat diamati pada musim kemarau pada jenis tanaman tertentu. Ketersediaan air penting dalam proses fotosintesis, dengan berkurangnya air maka fotosintesis akan terhambat, sehingga yang terjadi adalah air terus menguap dan klorofil berkurang. Akibatnya warna daun berubah menjadi kuning, kecoklatan dan akhirnya gugur.
Selama musim kemarau, tanaman memproduksi klorofil terus untuk membantu meningkatkan produksi glukosa, yang digunakan pohon sebagai makanan mereka. Sampai suatau saat ketika durasi panjang suatau hari menurun, dan menyebabkan matahari bersinar lebih singkat, pohon tersebut secara bertahap akan mulai menurunkan produksi klorofil dan pembuluh darah yang menuju ke daun lambat laun akan menutup. Ketika hal ini terjadi, maka yang tersisa pada daun hanyalah karotenoid dan antosianin, sehingga daun pun akan tampak berubah warna menjadi oranye, kuning merah, atau ungu.
Zat kimia dalam daun, aksin juga mengatur sel-sel pada batang daun. Auksin mencegah lapisan absisi terbentuk sempurna. Pada musim gugur akan memicu terhambatnya produksi auksin sehingga lapisan absisi terbentuk menghalangi sirkulasi air, nutrien, dan gula ke daun. Klorofil mengalami disintergrasi dan memicu pigmen lain seperti karoten ataupun anthocyanin menampakkan warnanya.
Hal utama yang memicu perubahan warna pada daun adalah berapa lama matahari menyinari daun tersebut dan panjang pendeknya hari. Beberapa pohon tergantung dari species pohon tersebut memiliki mekanisme yang akan memicu proses penutupan pembuluh darah pohon yang menuju ke daun dan akhirnya menggugurkan daun tersebut, mencegah agar pohon itu tidak membeku karena vena masih terbuka, yang berpotensi dapat membahayakan pohon. Selain hal tadi, kelembaban dan suhu juga berperan penting dalam proses ini.
Suhu juga berperan dalam perubahan warna daun. Namun, suhu hanya berperan kecil mengingat bahwa pohon yang berasal dari spesies yang sama pada ketinggian yang sangat tinggi, di mana suhu lebih dingin, akan memiliki perubahan warna daun pada waktu yang hampir sama persis dengan pohon yang berada di ketinggian yang lebih rendah. Proses penuaan daun dimulai pada tanaman umur 44 hari yang ditandai dengan menurunnya kandungan klorofil. Pada umur ini diduga terjadi perubahan warna daun dari umur daun muda dengan warna lebih terang ke warna daun yang lebih tua (lebih hijau).
Jenis-jenis tumbuhan yang mempunyai sifat menggugurkan daun disebut tumbuhan meranggas (tropophyta) yang banyak ditemukan di Indonesia, seperti, Pohon Jati (Tectona grandis L ), Kedondong (Spondias dulcis Forst.), Kapok Randu (Ceiba pentandra Gaertn.), Pohon Karet (Hevea brasiliensis Muell.), dan lain-lain.


Faktor Pengaruh Perubahan Warna Daun
Perubahan warna daun yang sering terjadi ketika daun masih muda dan daun tua adalah dari warna cerah seperti; putih, merah muda, merah tua, dan kuning pucat ke warna gelap seperti hijau dan hijau tua. Pada saat kondisi optimal, seperti saat gugur daun, beberapa jenis tanaman akan berubah warna lagi menjadi warna hangat/ panas seperti kuning, merah, sampai ke coklat. 
Perubahan warna tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor ultimate dan faktor proximate. Faktor lingkungan merupakan faktor luar yang mempengaruhi faktor internal tanaman misalnya unsur iklim (suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan), topografi, tanah, nutrisi, dan lain-lain. Faktor ultimate merupakan faktor yang tidak dapat diamati secara langsung dari fisik tanaman. Faktor tersebut berasal dari dalam faktor tanaman, biasanya terkait dengan genetis tanaman. Sementara faktor proximate merupakan faktor fisik dari tanaman yang dapat diamati secara langsung. Ketiga faktor ini akan saling berkaitan, terutama faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap faktor ultimate tanaman.

Faktor Lingkungan
 Lama panjang penyinaran
Tanaman menggunakan klorofil dalam proses fotosintesis dengan memanfaatkan energi matahari. Klorofil ini diproduksi dan diuraikan secara terus menerus dalam proses teresebut. Penurunan panjang hari penyinaran menyebabkan malam hari bertambah panjang, sehingga produksi klorofil melambat sebagai konsekuensi dari menyusutnya reaksi terang dalam proses fotosintesis tersebut. Penurunan produksi klorofil ini mendorong pigmen daun lainnya seperti xanthofil, karoten, dan anthocyanin terbentuk, sehingga merubah warna daun yang sebelumnya berwarna hijau menjadi berwarna-warni.

Intensitas Cahaya
       Intensitas cahaya yang jatuh ke permukaan daun berbeda-beda. Daun berumur muda terletak pada pucuk. Intensitas cahaya yang banyak serta jumlah klorofil yang banyak pada pucuk akan digunakan untuk proses fotosintesis. Akibatnya kadar klorofil akan menjadi rendah (Gambar2).

Gambar 2 Hubungan Intensitas Cahaya dengan Perubahan Warna Daun.
       IC terlalu rendah aktifitas fotosintesis menurun, suplai KH dan auxin untuk pertumbuhan akar menurun, bibit yang kekurangan IC memiliki perakaran yang tidak berkembang
       IC terlalu tinggi : fotooksidasi meningkat, suhu tinggi, kelembaban rendah, kematian daun (daun terbakar)
 
Suhu
Suhu udara berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Setelah mengetahui kondisi suhu udara maka akan dapat ditentukan tempat dan waktu penanaman yang tepat. Pada siang hari di musim kemarau, tanaman akan melakukan aktifitas fotosintesis secara optimal. Glukosa yang dihasilkan selain di transportasikan ke jaringan lain juga ditimbun. Penimbunan ini karena jaringan floem menutup akibat suhu pada malam hari yang kontras dengan suhu siang hari. Penimbunan gula ini menjadi pemicu pembentukan anthocyanin.

Persediaan Air
Persediaan air yang kurang, berdampak pada pengurangan kecepatan fotosintesis. Menurut Griffiths (1976) dalam Susanto (2008), Fotosintesis akan menurun jika 30% kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan berhenti jika kehilangan air mencapai 60%. Akibat kekurangan air juga menyebabkan penutupan stomata daun. Pada musim kering, transpirasi yang terjadi akan menyebabkan air menguap dengan intensitas tinggi yang berakibat daun mengalami kekeringan dan terjadi perubahan warna pada daun menjadi kuning atau kecoklatan.

Naungan Vs. Terbuka
Pada kondisi naungan jumlah klorofil pada tanaman akan lebih banyak daripada jumlah klorofil pada tanaman yang non-naungan. Tempat ternanung memiliki jumlah intensitas cahayanya tidak sebanyak pada tempat yang terbuka. Fotooksidasi pada daun usia tua lebih sedikit daripada daun yang lebih muda. Daun akan beradaptasi untuk membentuk klorofil sebagai akibatnya glukosa sebagai pembentuknya lebih banyak untuk daun yang sudah tua. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan warna pucuk dan warna daun tua.

Faktor Ultimate
Kadar Klorofil
Pada umur daun yang berbeda, kadar klorofil akan berbeda. Hal tersebut terjadi karena peran klorofil sebagai pigmen penerima cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Kandungan klorofil akan menentukan kecepatan fotosintesis. Semakin besar kadar klorofil maka laju fotosintesis berlangsung dengan cepat. Pada daun yang usianya tua memiliki kadar klorofil paling banyak dibandingkan daun berumur muda. Hal tersebut disebabkan oleh:
1.      Pada daun berumur tua sudah memiliki jaringan yang kompleks yang berdampak pada fotosintesis yang terjadi maksimal.
2.      Selain memiliki klorofil, daun pada usia tua memiliki karotenoid yang digunakan sebagai perlindungan, sehingga klorofil tidak mengalami fotosintesis berlebih.
3.      Karbohidrat yang ada pada daun berumur tua dihasilkan dalam jumlah banyak. Hal ini berdampak pada meningkatnya produksi klorofil, karena klorofil terbentuk dari karbohidrat.
Berdasarkan kandungan klorofil pada daun umur tua yang lebih banyak maka warna daun pada umur tua cenderung lebih berwarna hijau tua dibandingkan warna daun pada umur muda.

Faktor Proximate
Morfologi dan Anatomi Daun
Perbedaan warna daun yang berdasar pada perbedaan kandungan klorofil juga dipengaruhi perbedaan massa jenis tanaman, varietas, status nutrisi, musim, stress/cekaman, tipe tanaman, jenis tanah, dan iklim setempat. Tanaman yang tumbuh di tempat ternaung umumnya memiliki kandungan klorofil lebih besar dan luas daun lebih lebar, sedangkan tanaman di tempat terbuka kandungan klorofilnya lebih kecil dan luas daunnya lebih sempit. Tanaman yang tumbuh di daerah ternaung, kandungan klorofilnya lebih besar, daunnya lebih tipis, proteinnya lebih rendah dan luas permukaan daunnya lebih lebar dibandingkan tanaman yang tumbuh di tempat terbuka/tak ternaung.

Contoh dan Deskripsi Tanaman yang Memiliki Dinamika Warna Daun
Berikut merupakan daftar tanaman yang memiliki kedinamisan warna daun ketika masih muda (pucuk) dan perubahan warnanya menuju daun yang tua (Tabel 1). Tanaman di bawah dikelompokkan berdasarkan strata tanaman dengan disertakan data famili dan perubahan warna yang terjadi mulai dari daun yang usia muda ke tua.
Tabel 1 Perubahan warna daun muda ke daun tua pada beberapa tanaman

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Warna ke-4
Semak
Euphorbia pulcherrima (Kastuba)
Euphorbiaceae
Merah muda/ Putih
Merah
Hijau
-
Ardisia crenata

Myrsinaceae




Perdu Tinggi
Mussaenda sp. (Nusa Indah)
Rubiaceae
Putih/ Merah
Hijau muda
-
-
Calliandra sp.
(Kaliandra)
Fabaceae




Pohon Pendek
Saraca thaipingensis (Pohon saraka)
Fabaceae
Merah kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
-
Cynometra cauliflora (Nam-Nam)
Fabaceae
Merah
Kuning kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
Pohon Sedang
Brownea grandiceps (Bunga lampion)
Caesalpiniaceae
Merah muda kecoklatan
Hijau
-
-
Maniltoa grandiflora (pohon saputangan)
Fabaceae
Hijau muda
Kuning kemerahan
Hijau
Hijau tua
Pisonia grandis ‘Alba
(Kol banda)
Nyctaginaceae
Kuning muda
Hijau-kuning
Hijau muda
Hijau tua
Syzygium oleana
(Pucuk Merah)
Myrtaceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
-


Lanjutan Tabel 1 Perubahan warna daun muda ke daun tua pada beberapa tanaman
Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Warna ke-4
Pohon Tinggi
Cinnamomum burmanii (Pohon Kayu manis)
Lauraceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Pometia pinnata
(Pohon Matoa)
Sapindaceae
Merah
Hijau muda
Hijau tua
Kuning
Ficus benjamina L. (Pohon beringin)
Moraceae
Merah muda/ Kecoklatan
Hijau tua
-
-
Ficus elastica
(Beringin karet)
Moraceae
Merah
Hijau tua
-
-
Dialium modestum (Dialium)
Caesalpiniaceae
Merah
Kuning kecoklatan
Hijau muda
Hijau tua
Cryptocarya perrea
Lauraceae

Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Persea americana (Pohon Alpukat)
Lauraceae
Merah kecoklatan
Merah kehijauan
Hijau tua
-
Tanaman Menempel (Efifit)
Ficus repens
(dolar-dolaran)
Moraceae
Hijau muda
Hijau tua
-
-
Tanaman Groundcover
Blechnum gibbum
(Blechnum)
Blechnaceae

Merah
Hijau muda
Hijau tua
-
Sumber: Pengamatan Lapang serta Lestari dan Kencana (2008).

Berikut ditampilkan daftar tanaman tropis yang memngalami perubahan warna daun ketika gugur daun. Pada umumnya merupakan kelompok strata pohon. Data yang ditampilkan berupa nama famili dan perubahan warna yang terjadi. Warna ke-1 menunjukkan warna optimal sebelum mengalami gugur daun.
Tabel 2 Perubahan warna daun pada beberapa tanaman tropis yang menggugurkan
 daun

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna Ketika Gugur Daun
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Terminalia cattapa (Pohon Ketapang)
Combretaceae
Hijau
Kuning
Jingga kemerahan
Delonix regia (Pohon Flamboyan)
Caesalpiniaceae
Hijau tua
Kuning
Kuning kecoklatan
Pometia pinnata
(Pohon Matoa)
Sapindaceae
Hijau tua
Kuning
-
Lanjutan Tabel 2 Perubahan warna daun pada beberapa tanaman tropis yang menggugurkan Daun

Contoh Tanaman
Famili
Perubahan Warna Ketika Gugur Daun
Warna ke-1
Warna ke-2
Warna ke-3
Hevea braziliensis
(Pohon Karet)
Euphorbiaceae
Hijau tua
Kuning kecoklatan
-
Ceiba pentandra (Pohon Kapuk)
Moraceae
Hijau
Coklat
-
Persea americana (Pohon Alpukat)
Lauraceae
Hijau tua
Kuning
Kuning kecoklatan

Sumber: Pengamatan Lapang serta Lestari dan Kencana (2008).


Fungsi dan Rekomendasi Penggunaan Tanaman Dinamika Warna Daun pada Desain Lanskap

Penggunaan tanaman yang memiliki dinamika warna daun akan memberikan kesan visual yang berbeda, karena pengguna tapak dapat menikmati sesuatu yang dinamis (tidak monoton). Kombinasi elemen warna, tekstur penting ditampilkan agar desain selaras dan bukan hanya kumpulan tanaman. Warna pada tanaman yang dihadirkan akan memberi suasana tertentu seperti tujuan desainer, misalnya penggunaan tanaman dengan dinamika daun warna kuning-hijau akan memberi suasana ceria dan segar, penggunaan dinamika warna daun merah-merah muda-hijau akan membentuk suasana ruang yang hangat.
Aplikasi penggunaan tanaman dinamika warna daun dapat dimulai dengan penentuan dan peletakan tanaman utama (Anonim a, 2011). Tanaman utama dapat berupa tanaman yang memiliki dinamika daun ataupun tidak. Apabila tanaman utama tidak memiliki dinamika warna daun, maka tanaman disekitarnya didesain menggunakan tanaman dengan dinamika warna daun, hal ini berlaku sebaliknya. Hal tersebut berfungsi untuk memperkuat sifat tanaman utama (sebagai focal point). Contohnya adalah kombinasi tanaman Cupressus cashmeriana (sebagai focal point) dengan tanaman Pisonia grandis (Kolbanda) sebagai tanaman penunjang.
Komposisi peletakan tanaman sebagai focal point dapat disesuaikan dengan arah pandang. Apabila focal point ingin dilihat dari seluruh arah maka tanaman utama diletakan di pusat, tetapi apabila ingin dilihat dari satu sisi maka dapat diletakkan di depan atau di belakang tanaman penunjang. Penggunaan tanaman dinamika warna daun juga dapat disesuaikan dengan teksturnya. Seperti kombinasi Cupressus cashmeriana dengan tanaman Kolbanda, yang memiliki tekstur berbeda akan memberi kontras yang baik. Dari segi pemilihan warna perlu diperhatikan untuk menggunakan warna-warna yang serasi. Tanaman dengan dinamika warna daun biasanya sudah memiliki banyak warna dalam satu tanaman, sehingga perlu diatur jumlah jenis tanaman yang akan digunakan agar tetap tercipta satu kesatuan (unity). Kesatuan dan keseimbangan dapat menghasilkan keserasian, tetapi dapat juga mengahasilkan hal yang monoton sehingga diperlukan aksen. Aksen ini dapat dibentuk dari adanya kontras dalam segi warna, bentuk, tekstur, ketinggian dan sebagainya.
Pembentukan aksen dapat dilakukan dengan menambahkan tanaman yang daunnya berwarna menarik seperti hanjuang merah ataupun jenis lain diantara tanaman utama dan penunjang. Sebagai penutup batang tanaman tersebut dapat diletakkan groundcover seperti Spathyphillum atau jenis paku-pakuan. Jenis yang dapat digunakan dalam satu area sebaiknya tidak terlalu banyak, sekitar 3 jenis untuk maksimalnya. Hal ini agar secara visual perhatian pengguna tidak terlalu terpecah dengan banyaknya jenis tanaman yang dinamis warna daunnya. Beberapa ketentuan dalam penyusunan komposisi tanaman secara umum:
1.      The law of simplicity: tidak menggunakan banyak jenis tanaman
2.      The law of dominance: Satu jenis tanaman mendominasi kelompok, jenis lainnya sebagai penunjang
3.      The law of harmony: Pemilihan jenis yang serasi dilihat dari warna, tekstur, sifat pertumbuhan
4.      The law of ecology: Jenis tanaman terpilih tidak boleh saling bertentangan dalam kebutuhan akan hidup
5.      The law of adaptation: Jenis tanaman terpilih harus sesuai dengan keadaan tempatnya.


PENUTUP

Kesimpulan

Perubahan warna yang terjadi dari daun usia muda ke tua adalah dimulai dari warna cerah seperti, merah, merah muda, hijau kekuningan lalu berubah ke warna gelap hijau, hijau tua, kuning, merah kecoklatan, lalu gugur. Hal ini terkait dengan jumlah nutrisi yang didistribusikan ke daun. Daun yang mengalami penuaan cenderung menerima nutrisi yang lebih banyak, sehingga daun tua mendapat lebih banyak klorofil. Oleh sebab itu warna daun yang berumur tua lebih hijau. Proses menggugurkan daun akan diikuti oleh perubahan warna daun. Ketersediaan air penting dalam proses fotosintesis, dengan berkurangnya air maka fotosintesis akan terhambat, sehingga yang terjadi adalah air terus menguap dan klorofil berkurang. Akibatnya warna daun berubah menjadi kuning, kecoklatan dan akhirnya gugur. 
Faktor yang mempengaruhi perubahan warna daun pada usia muda dan tua adalah faktor lingkungan (lama panjang penyinaran, intensitas cahaya, suhu, persediaan air, kondisi naungan/tidak), faktor ultimate meliputi kadar klorofil, dan faktor proximate meliputi morfologi dan anatomi daun. Berdasarkan hasil pengamatan di lapang, tanaman dengan dinamika warna daun dijumpai dominan pada famili Caesalpiniaceae, Lauraceae, Moraceae, dan Fabaceae. Penggunaan tanaman dengan dinamika warna daun dapat memberi kesan dinamis dan hidup pada lanskap, membentuk suasana tertentu yang tidak monoton, membentuk focal point, dan unity. Hal yang perlu diperhatikan dalam komposisi adalah menata sebagai focal point, jenis dan jumlah tanaman, kombinasi warna-tekstur-bentuk, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.

Saran
Diperlukan kajian lebih dalam mengenai waktu yang diperlukan pada tiap-tiap perubahan warna daun, karena pada makalah ini hanya dapat diketahui bahwa waktu yang diperlukan daun muda berkembang menjadi daun tua selama 44 hari, namun untuk perubahan waktu dari satu warna ke warna lainnya belum diketahui secara detil.




DAFTAR PUSTAKA


Anonim a. 2011. Tata Hijau-Pdf. http://google.com. Hlm 81-88. [28 September 2011).

Anonim b. 2011. Penuaan dan Pengguguran pada Tumbuhan. www.google.com. [29 September 2011].


Lestari G dan IP Kencana. 2008. Galeri Tanaman Hias Lanskap. Jakarta: Penebar Swadaya.

Susanto A. 2008. Kadar Klorofil Pada Berbagai Tanaman yang Berbeda Umur. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

1 komentar :

  1. Makasih ya atas informasi yang diberikan sangat bermanfaat gan...
    Salam kenal gan dari membuat Manisan kolang kaling

    BalasHapus

Trending of Mademoiselle